986 Mahasiswa KKN UBT Dapat Pengarahan Stunting dari Deputi Lalitbang BKKBN RI

Tarakan – “Kalau ada pertanyaan penduduk yang bagaimana yang digarap menjadi tugas dan fungsi BKKBN. Maka jawabannya, mulai dari calon penduduk atau yang sedang di kandung dalam kandungan sampai si calon penduduk ini lahir, kemudian menjadi baduta, batita, balita, lalu diintervensi lagi saat menjadi remaja, diintervensi lagi menjadi calon pengantin, orang tua hebat, hingga menjadi lansia yang tangguh”.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN Republik Indonesia, Prof. drh. M. Rizal Martua Damanik, M.Rep.Sc, Ph.D., saat memberikan Keynote Speech di hadapan 986 orang mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) pada Pembekalan KKN Mahasiswa Peduli Stunting, Sabtu (4/6).

Prof. Rizal menambahkan BKKBN atau Badan Koordinasi dan Keluarga Berencana Nasional dahulu didirikan dalam rangka mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.

“Dulu pada 1970-an, Total Fertility Rate (TFR) atau jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita usia produktif selama hidupnya itu adalah 5 sampai 6 orang anak. Kalau tidak dikelola dengan baik, jumlah penduduk Indonesia akan bertambah dan bertambah terus. Oleh karena itu, dibentuklah BKKBN. Alhamdulillah, TFR di Indonesia dapat dikendalikan dan turun menjadi 3,5 di tahun 1990-an. Keberhasilan ini membuat Indonesia meraih Penghargaan Population Award (Penghargaan Bidang Kependudukan) dari PBB,” kata Prof. Rizal.

Dalam perkembangannya, nama BKKBN yang sebelumnya adalah Badan Koordinasi, pada 2009 lalu berubah menjadi BKKBN atau Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional sebagaimana UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

“Jadi bila ada pertanyaan atau saat melakukan sosialisasi di KKN nanti, tolong para mahasiswa dapat menjelaskan kepada masyarakat,” ungkap pria lulusan Monash University, Melbourne, Australia ini.

Lebih lanjut dikatakan Prof. Rizal, BKKBN sangat concern dalam memprogram kependudukan masyarakat Indonesia. Mulai dari calon penduduk hingga menjadi lansia tangguh ada program-program yang dilakukan oleh BKKBN.

“Ada Program BKB atau Bina Keluarga Balita yang membina keluarga yang akan memiliki dan sedang memiliki balita. Ada Program BKR atau Bina Keluarga Remaja membina keluarga memiliki remaja. Untuk remajanya sendiri ada Program Generasi Berencana. Lalu ada pula BKL atau Bina Keluarga Lansia yang membina keluarga dengan lansia agar lansia dapa hidup sehat dan tangguh,” kata Prof. Rizal.

Disisi lain, meskipun negara kita ini dianugerahi dengan kekayaan hasil pertanian dan kelautan yang melimpah, Indonesia masih mengalami persoalan di bidang gizi masyarakat, antara lain stunting.

“Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Namun tidak semua yang pendek berarti stunting. Gangguan lainnya adalah perkembangan sel otak yang tidak sempurna akan mempengaruhi kecerdasan dan kualitas di masa mendatang,” jelasnya.

Oleh karena itulah, BKKBN menggandeng Universitas Borneo Tarakan sebagai mitra kerja dalam mengatasi stunting di Provinsi Kalimantan Utara.

“Dengan hasil pertanian dan kelautan yang melimpah di Kalimantan Utara, setidaknya kita dapat mencegah agar tidak ada lagi stunting-stunting baru. Saya harap mahasiswa yang akan KKN dapat menginformasikan kepada masyarakat pentingnya pola asuh anak dalam keluarga”, ungkap Prof. Rizal.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan. Bounding antara anak dan orang tua harus dibangun sejak dini.

Hadir dalam kegiatan Pembekalan KKN tersebut antara lain Anggota Komisi IX DPR Republik Indonesia, Wali Kota Tarakan, Koordinator Program Bangga Kencana Provinsi Kalimantan Utara, dan beberapa orang jajaran Civitas UBT. (Rapsmoau, Dokumentasi: Mustain Adnan)