Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Dalam prioritas nasional 2019 yang pertama  disebutkan pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar. Program prioritas ketiga adalah pemerataan layanan pendidikan berkualitas dengan kegiatan prioritas ketiga berupa penguatan literasi untuk kesejahteraan. Berdasarkan prioritas nasional pembangunan tahun 2019 tersebut terdapat tiga proyek prioritas nasional, antara lain: 1) Literasi informasi terapan dan inklusif, 2) Pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, 3) Pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Dari Program Prioritas Nasional (ProPN) ini di anjurkan agar semua pengertian inklusi sosial adalah pendekatan perpustakaan berbasis sistem sosial/masyarakat yang ada di lingkungan perpustakaan (social system approach) atau pendekatan kemanusiaan (humanistic approach). Pendekatan inklusi sosial adalah memandang perpustakaan sebagai sub sistem pembangunan sosial kemasyarakatan. Untuk itu, perpustakaan harus dirancang agar memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat. Melalui pendekatan inklusif ini perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh semangat baru dan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.

Kemiskinan itu bisa disebabkan beberapa hal, antara lain: keadaan materi seseorang dan kemampuan akses informasi terkait TIK masih kurang, tidak tersedianya informasi yang berkualitas dan kurangnya akses yang dibutuhkan, serta ketidakmampuan orang dalam mendapatkan informasi yang berguna akibat pendidikan, pengalaman dan kontekstual. Adapun solusi yang bisa dilakukan adalah peningkatan akses informasi, penguatan infrastruktur informasi, dan penguatan konteks  informasi bagi individu. Harapannya masyarakat akan memperoleh keadilan informasi dan peningkatan literasi yang akan berdampak pada kesejahteraan.

Ada beberapa tahapan dalam menerapkan transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Tahap pertama “RENCANA”: Mendesain perpustakaan dan koleksinya untuk dimanfaatkan masyarakat  seoptimal mungkin. Tahap kedua “AKSI”: menyediakan ruang berbagi pengalaman, ruang belajar yang kontekstual, dan ruang berlatih keterampilan kerja. Indikator keberhasilannya akan diketahui antara lain: peningkatan kunjungan pemustaka ke perpustakaan, peningkatan pelibatan masyarakat dalam kegiatan perpustakaan, peningkatan ekspos media terhadap kegiatan perpustakaan, peningkatan jumlah kemitraan perpustakaan dengan berbagai lembaga.

Literasi akan meningkatkan produktifitas masyarakat karena dengan penguatan literasi individu maka akan terjadi perubahan pengetahuan dan perilaku individu yang akan berdampak pada peningkatan produktifitas dan kesejahteraan.

Transformasi pelayanan perpustakaan yang berbasis inklusi sosial akan ditandai dengan adanya ketersediaan dan kemudahan akses bahan pustaka dan sumber informasi  bermutu untuk masyarakat, masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan untuk berbagi pengalaman dan melatih keterampilan agar memperoleh  keahlian dan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan, perpustakaan menjadi ruang  sinergitas  kegiatan kemasyarakatan di daerah, OPD, agar manfaat dan dampak di masyarakat  optimal, serta peningkatan kesejaheteraan masyarakat dan peringkatan IPM dalam jangka  5  tahun ke depan.

Perpustakaan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur menyediakan koleksi-koleksi informatif yang dapat menambah wawasan pemustaka dalam berwirausaha contohnya rahasia menjadi Lansia Produktif, Rahasia Kemandirian ekonomi Untuk Keluarga, 8 Langkah Tingkatkan Ekonomi Keluarga, dan lain-lainnya.

Koleksi tersebut merupakan koleksi terapan yang bisa langsung di aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, yang harapannya bisa memberikan wawasan dan pengetahuan  dalam usaha Peningkatan Ekonomi Keluarga.