BKKBN Kaltim Dorong Sinergitas Kemitraan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Kutai Timur

Sangatta – “Kehadiran kami di Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu upaya kami untuk mendorong sinergitas kemitraan dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia khususnya di Provinsi Kalimantan Timur”. Hal ini diungkapan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur saat ditemui seusai menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Peningkatan Peran Mitra Kerja dalam Program Bangga Kencana yang digelar di Ruang Tempudau, Kantor Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Rabu (19/1).

Lebih lanjut Edi Muin mengungkapan tentang tingginya angka anak dengan kondisi stunting di Kabupaten Kutai Timur. “Untuk Provinsi Kalimantan Timur angkanya berada pada 22,8 persen artinya dari 100 balita diperkirakan ada 22 s.d 23 balita dengan kondisi stunting. Sementara Kabupaten Kutai Timur sendiri adalah sebesar 27 persen atau dari 100 balita ada sekitar 27 anak dengan status stunting. Ini artinya lebih tinggi dari prevalensi stunting provinsi bahkan lebih tinggi dari pada nasional yang sebesar 26 persen,” ungkap Edi Muin.

Oleh karena itu, dirinya berharap kerjasama yang sudah bangun dengan baik dengan berbagai pihak dapat diimplementasikan di lapangan. “Kami harap sinergitas yang dibangun dalam pertemuan hari ini tidak hanya sekadar manis di bibir saja. Harus ada action-nya. Harus benar-benar dilakukan untuk bisa menurunkan angka prevalansi stunting di Kutai Timur. Apalagi akan ada tiga kekuatan nanti yang akan mengawalnya, yaitu Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang beranggotakan Kader PKK, Bidan, dan Kader KB. Belum lagi dukungan dari berbagai pihak seperti Babinsa, Mitra Kerja, dan bahkan swasta. Ini adalah kekuatan yang besar. Kolaborasi yang sangat luar biasa dan pertemuan hari ini juga tepat dilaksanakannya di awal tahun sehingga nanti gebrakannya nyata betul di lapangan,” harapnya.

Edi Muin juga menerangkan beberapa hal yang membuat prevalansi stunting bisa tinggi di suatu wilayah. “Melahirkan anak yang rapat jarak kelahirannya, hamil terlalu muda ataupun terlalu tua, hingga pola pengasuhan dan pengetahuan masyarakat tentang anak akan mempengaruhi tinggi rendahnya angka stunting. Belum lagi soal pemahaman akan pentingnya mengawal 1000 hari pertama kehidupan dengan memperhatikan kecukupan gizi sejak awal kehamilan atau selama 270 hari dan 730 hari pertama sejak bayi dilahirkan,” terangnya.

Dibentuknya TPK di setiap Kabupaten/Kota diharapkan dapat menurunkan angka prevalansi stuting. “Pengawalan yang baik kepada para calon pengantin, ibu hamil dan ibu pasca persalinan, ibu menyusui, dan anak berusia 0-59 bulan oleh TPK akan memberikan efek deteksi dini faktor risiko stunting baik sensitif maupun spesifik berdasar data yang dia miliki, melakukan pendampingan dan survei, mefaslitasi terhadap pelayanan rujukan serta pendampingan bantuan sosial”, ungkap Edi Muin.

Kegiatan yang dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintah, Tejo Yuwono, S.Pd., dihadiri juga oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kutai Timur, Hj. Siti Robiah Ardiansyah, beserta jajaran pengurus, Kepala Dinas PPKB, Ketua IBI, Koramil 0909/01 Sangatta, Babinsa, dan beberapa mitra kerja terkait lainnya. Selain penyampaian materi, dalam kegiatan ini juga dilakukan peluncuran Pil KB Bagi Ibu Menyusui, penyerahan Piagam Penghargaan kepada RS SOHC, RSPKT Prima Sangatta, dan Praktik Mandiri Bidan Triana Nur. (Rapsmoau, Dokumentasi: Mustain Adnan)